Wednesday, August 13, 2014



Pocong Merah vs Pocong Putih: Episode Berebut Kuburan


"LONGSOOOOR!!"

Jeritan bersahut-sahutan di taman makam Poci-Poci yang letaknya agak tersembunyi di Desa Pokori. Desa Pokori adalah sebuah desa kecil yang angker dan sepi. Penduduknya tidak sampai seribu jiwa. Pelancong pun nyaris tidak pernah ada. Hanya kadang-kadang tim dari rumah produksi datang untuk syuting film horor di Poci-Poci.

Oh, ya... jangan salah, teriakan bersahut-sahutan tadi asalnya dari para penghuni taman makam yang sudah mati dan hobi gentayangan malam-malam. Jadi takkan ada manusia hidup yang mendengarnya kecuali manusia itu punya kelebihan untuk menguping percakapan dunia orang mati.

Sebenarnya tidak ada jaminan juga, sih. Buktinya Desa Pokori dicap angker, kan? Malah kadang-kadang, ada pelayat yang tak sengaja melihat penghuni Poci-Poci lalu lari tunggang-langgang. Dan kalau bicara soal penghuni, Poci-Poci punya beragam. Mulai dari pocong, suster ngesot, kuntilanak, hantu janda beranak tiga, tuyul, siluman kelelawar sampai peri-peri kurang kerjaan... ADA.

Puput si pocong putih mengintip dari sobekan di bagian depan kain pembungkusnya, mencari tahu siapa korban longsor kali ini.

Belakangan, cuaca di Desa Pokori sangat buruk, terlalu sering hujan sehingga tanah di Poci-Poci jadi lembab dan lembek. Sudah ada tiga kuburan yang terkena longsor di Poci-Poci sehingga beberapa penghuninya terpaksa harus mengungsi ke kuburan tetangga yang berbaik hati memberikan tumpangan sampai penjaga kuburan menyingkirkan tanah yang menimbun kuburan si korban.

Sedih memang. Sudah mati masih saja terkena bencana. Tapi di Poci-Poci, apa pun bisa terjadi.

Korban kali ini adalah Pome si pocong merah. Bingung kenapa bisa ada pocong merah dan pocong putih? Ceritanya begini... di Poci-Poci hanya ada dua pocong. Karena kedua pocong itu terlalu mirip satu sama lain, hantu janda beranak tiga yang seluruh tubuhnya berdarah-darah memberikan solusi dengan memberikan pelukan erat pada salah satunya. Pelukan itu membuat darah di tubuh si hantu janda beranak tiga menempel di kain pembungkus pocong tersebut. Nah, sejak itu, pocong yang mendapat cetakan darah hantu janda beranak tiga dipanggil dengan nama Pome alias pocong merah dan pocong yang kainnya bersih dipanggil Puput alias pocong putih. Puput ogah dipanggil Poput karena katanya kurang girly.

Mari kita kembali ke cerita sebenarnya.

Pome sedang menangis tersedu-sedu ketika Puput tiba di tempat kejadian bencana. Para penghuni Poci-Poci sudah berkumpul mengerumuninya. Maklum, gerakan pocong tidak secepat hantu-hantu lainnya. Pocong harus melompat-lompat dengan penuh dedikasi, menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh dan menjaga emosi agar mampu bersabar dengan segala keterbatasan tersebut. Kalau disandingkan dengan zombie di negara barat sana, pocong tak kalah kok kerennya. Sama-sama orang mati yang keluar dari kuburannya, kan? Istilah kerennya, mayat hidup mau eksis.

"Pome, jangan nangis," hibur Anita si suster ngesot yang minggu lalu jadi korban longsor. "Kalau si bapak penjaga kuburan sudah bekerja, dalam tiga hari kuburan ente bakal layak huni lagi, kok."

"Ahuhuhuhu... Pome kagak demen, dah kalau kejadiannye kayak begindang, Anita darling.... ahuhuhu.... Pome selalu ngejaga kuburan Pome biar selalu bersih, apik, teratur dan wangi. Ahuhuhu... kenape mesti kuburan Pome yang kena dilongsorin? Kenape ya owo...," tangis Pome yang konon semasa hidup adalah tukang gunting rambut yang diragukan kejantanannya.

"Namanya juga nasib, Pom. Siapa suruh kuburan elo posisinya kurang strategis," kata Drako yang adalah siluman kelelawar sambil mengorek jigong di taringnya. Nama kerennya di kancah internasional adalah drakula. Sayang Drako kurang beken, nasibnya tak seberuntung saudaranya di Amerika sana. Itu, tuh, Edward Cullun. "Kayak gue, dong. Bisa tidur menggelantung di dahan pohon mana saja. Aman dari longsor. Aman dari hujan juga kalau pohonnya cukup rindang."

Puput geleng-geleng kepala. Kasihan melihat nasib Pome tapi sebal juga mendengar tangisannya. Cowok kok cengeng banget.

"Pome mesti tidur dimenong... ahuhuhu.... Pome kagak demen sumpaah... numpang-numpang di kuburan orang," rengek Pome. "Pome kagak biasa nempel-nempelan. Cukup sekali aje Pome didekep erat sama si janda beranak tiga itu. Badan Pome abis itu gatal-gatal kagak karuaaan... ahuhuhuhu."

Tuh, kan. Sudah tahu butuh bantuan tapi malah mengucapkan kata-kata yang membuat Puput serta hantu-hantu dan makhluk-makhluk magis lain kehilangan rasa ibanya. Padahal tadinya Puput mau menawarkan Pome tidur di kuburannya meskipun sempit. Lihat, hantu-hantu dan makhluk-makhluk magis jadi bubar semua. Termasuk Drako dan Anita yang sepertinya memilih untuk kencan diam-diam. Tinggal Puput sendiri yang berdiri di depan Pome, gerah mendengar sedu-sedannya.

"Tahu dirilah, Pome!" bentak Puput. Pocong putih ini memang terkenal paling galak di Poci-Poci. Padahal wajah di balik kain pembungkus itu cantik jelita untuk ukuran mayat hidup. "Elo mau nangis sambil kayang juga kuburan elo tetep aja ketimbun. Kalau emang nggak sudi tidur numpang di kuburan lain, sana tidur di tanah. Hujan-hujanan. Sukurin kalau ada petir yang nyamber elo sampai gosong. Gue bakal ketawa paling kenceng."

"Ih, kok ente gitu banget sama Pome, Put? Padahal kita sama-sama pocong, seharusnya ente dan Pome saling memahami," kata Pome tak terima. "Kalau Pome kesamber petir sampai gosong, nanti Pome bukan pocong merah lagi, tau. Ente juga jadi kehilangan temen kalau Pome sampe mati."

"Emangnya gue peduli?" balas Puput ketus. Lagian mana ada orang mati bisa mati lagi, pikirnya.

Tiba-tiba saja Pome sudah melompat-lompat meninggalkan Puput. Tidak berkata apa-apa apalagi pamitan. Tapi dari lompatannya, Puput bisa menebak kalau Pome sangat buru-buru.

Tunggu.

"Arah itu, kan...."

Puput melotot. Menyadari Pome sedang menuju ke kuburannya. Tidak tahu kenapa, feeling-nya berkata Pome berniat merebut kuburan Puput!

"Heeeei!!" Puput menjerit dan buru-buru melompat-lompat mengejar Pome. "Elo mau ngapain, Pome!?"

Pome tidak menjawab, malah melompat lebih cepat lagi.

"Wah, dasar pocong kurang ajar....!"

Teriakan Puput mengundang perhatian, beberapa penghuni Poci-Poci mengeluarkan kepala mereka dari dalam kubur untuk mengintip. Drako dan Anita diam-diam menggeleng-geleng melihat kelakuan Pome dari balik bayang-bayang pohon beringin. Keduanya memberikan dukungan dalam hati untuk Puput.

"POMEEEE!! BERHENTI!!"

"OGAAAAH!!"

"Ayo, kejar, Put!! Kejar!!" satu demi satu hantu-hantu menyorakkan dukungan. Tuyul-tuyul kecil berkulit keunguan ikut berlari-lari girang di belakang Puput. Babi ngepet mendengkur malas merasa terganggu. Lalu tiba-tiba Pome jatuh tengkurap sehingga Puput bisa menyusulnya. Rupanya Anita yang menyengkat Pome dengan kakinya.

"SUKURIN!" ejek Puput seraya melompat menginjak-injak punggung Pome sebelum masuk ke dalam kuburnya. Nyaris saja Pome yang kurang ajar itu merebut kuburan Puput.

"Yaaah... Pome tidur dimenong, dong?" rengek pocong merah lagi.

Baik Puput maupun penghuni kubur-kubur yang ada di taman makam itu menghela napas lalu masuk ke dalam kubur mereka masing-masing. Drako dan Anita kembali asyik dengan dunia mereka sendiri. Tidak ada yang mau peduli lagi pada tangisan Pome yang memecah kesunyian malam, yang membangunkan siluman serigala dan burung-burung hantu pencari roh nyasar.

Lebih sial lagi, ternyata penjaga kuburan juga sedang pulang kampung. Hihi. Sukurin. Makanya Pome bertobat, dong.

sumber :
blog usaneko-fictions




kijing gratis kijing gratis kijing garansi sepuluh tahun khusus janda discount tiga puluh persen

berawan com kijing gratis kijing gratis kijing garansi sepuluh tahun khusus janda discount tiga puluh persen



0 komentar:

Post a Comment