Wednesday, April 20, 2016


RA Kartini

PEREMPUAN DI JAMAN PENJAJAHAN

Terpenjara itu kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan wanita di era Kartini di jaman penjajahan Belanda. Tidak hanya badan tapi juga pikiran, bahkan kehidupan mereka. Masyarakat Jawa saat itu masih memandang bahwa perempuan buat laki-laki adalah konco wingking. Mereka para perempuan hanyalah pelengkap bagi kehidupan laki-laki. Perempuan harus megikut apa kata para kaum laki-laki. Falsafah itu tak saja dalam strata sosial kelas rendahan, demikian pula halnya falsafah itu melekat dalam pandangan strata kelas atas bangsawan atau priyayi di Tanah Jawa. Perempuan, begitu akil baligh mereka harus tinggal di rumah untuk dipingit. Mereka belajar mengurus rumah tangga, menunggu dan bersiap untuk dijodohkan. Setelah menikah mereka harus melayani suami, mengurus rumah, dan melahirkan anak. Perempuan tidak perlu punya cita-cita yang tinggi. Tak perlu pergi kemana-mana untuk menuntut ilmu. Tak perlu sekolah. Mereka, para perempuan hanya diajarkan ilmu tata krama kepada keluarga dan masyarakat dan ilmu seluas rumah. Mereka tidak boleh menjabat dalam pemerintahan, apapun jabatan itu. Jabatan yang boleh buat mereka hanya sebagai istri mendampingi suami. Swarga nunut, neraka katut. 

KARTINI YANG PANTANG MENYERAH DAN PEMIKIRANNYA Raden Ajeng Kartini adalah seorang perempuan yang terlahir dari rahim dari seorang Ibu bernama M.A. Ngasirah, Ayahnya, Raden Mas Adipati Sosroningrat seorang bangsawan di Jepara yang menjabat sebagai bupati Jepara saat itu. Jika dirunut ayahnya berujung hingga Hamengkubuwna VI. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Rembang Jepara. Kartini adalah anak kelima dari sebelas orang bersaudara dan anak perempuan tertua dalam keluarga itu. Sebagai bangsawan pun, ayah Kartini memperlakukannya tak ubah sebagaimana pandangan masyarakat umumnya terhadap perempuan saat itu. Sampai berusia 12 tahun Kartini diperbolehkan mengenyam pendidikan bahasa di ELS (Europe Lagere School), termasuk di dalamnya bahasa Belanda. Di usia itupun Kartini di pingit. 

Semangat kuat untuk belajar tetap bergelora pada anak gadis yang menginjak remaja itu, Kartini di rumah memanfaatkan waktunya untuk belajar sendiri. Tak kehilangan akal, ia memperdalam bahasa Belanda dengan cara menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Ia berkorespondensi dengan mereka. Salah satunya adalah Rosa Abendanon. Teman Kartini inilah yang selalu menyemangati dan memberi dukungan pada Kartini. 

Di samping korespondensi dengan teman-temannya, Kartini juga banyak membaca koran saat itu De Locomotief, selain leestrommel (bundel majalah) termasuk majalah kebudayaan dan majalah wanita Belanda De Hollandsche.  Tak hanya itu, buku-buku karya Multatuli seperti Max Havelaar, Surat-Surat Cinta, karya Louis Coperus De Stille Kraacht, karya Van Eeden, karya Augusta Witt, roman karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan roman anti perang Berta Von Stuttner Die Waffen Nieder, semua berbahasa Belanda dilahapnya habis. 

Kartini banyak mengambil pelajaran tentang kehidupan bangsa dan budaya lain selain budaya Jawa yang mengekang kehidupan perempuan Jawa. Pandangan masyarakat Eropa pada perempuan yang tergambar dalam semua bacaan Kartini tersebut, dimana perempuan tak hanya sebatas mengurus suami, memasak ataupun hanya melahirkan anak, mereka boleh berada di luar rumah. Perempuan Eropa lebih maju, perempuan Eropa berada dalam status kelas yang sama dengan kaum lelaki. Semua itu mempengaruhi cara berpikir Kartini. Pun keinginan agar kehidupan perempuan Jawa seperti perempuan Eropa menguat di dalam hati dan pikiran Kartini. 

Tak hanya itu, ia berkeinginan bahwa perempuan Jawa haruslah memperoleh kebebasan memilih nasibnya, lebih luas dari itu mempunyai kesamaan status sosial dalam masyarakat, kebebasan dalam hal ekonomi dan hukum. Jadilah ia, seorang Kartini yang bercita-cita ingin maju yang berdasar pada ketuhanan, kebijakan, dan keindahan, kemanusiaan serta cinta tanah air. Sebagai perempuan yang juga belajar tentang agama, Kartini juga mengkritisi pelaksanaan agama di masyarakat Jawa. Ia mempertanyakan kenapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. 

Kartini dengan melihat kenyataan bahwa Islam oleh pemeluknya masyarakat Jawa waktu itu hanya sekedar dihafalkan dan dilafalkan tanpa dipahami dengan benar, hanyalah menimbulkan perselisihan. "Lebih damai tanpa agama, jika agama yang menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah dan saling menyakiti. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyak dosa diperbuat orang yang atas nama agama itu," demikian Kartini dalam salah satu suratnya. Tak hanya itu, Kartini juga memprotes masyarakat yang menggunakan dalih agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Tapi pada akhirnya, Kartini bersedia dijodohkan dengan seorang laki-laki yang berpoligami. 

Gadis Kartini dinikahkan oleh ayahnya di tahun 1903 saat dia berumur 24 tahun. Suami Kartini adalah bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang pernah mempunyai tiga istri. Setelah menikah, semangat Kartini tetap tidak berhenti. Bahkan setelah pernikahannya Kartini lebih dewasa dan berkurang ego sentrisnya. Ia lebih mengutamakan transendensi dan penilaiannya terhadap adat Jawa lebih toleran. Pernikahan menurutnya membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan cita-citanya. Suami tercinta mendukung dengan memberikan kebebasan kepadanya untuk menulis buku, dan mengembangkan ukiran Jepara, bahkan mendirikan sekolah wanita di sekitar kompleks kantor kabupaten Rembang. Sekolah yang mengekspresikan semangat kuat Kartini untuk membuat perempuan di jamannya bisa maju sebagaimana yang ia cita-citakan. Beberapa hari setelah melahirkan puteranya yang pertama dan terakhir, Kartini meninggal di usianya yang relatif masih muda, 25 tahun. 


PENGHARGAAN KEPADA KARTINI Surat-suratnya kepada teman-temannya di Eropa dibukukan oleh JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, dan pada 1911, dicetak menjadi buku dengan judul Door Duistemis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Sebelas tahun kemudian di 1922, Balai Pustaka menerjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Tahun 1938 Armjn Pane, sastrawan Pujangga Baru mempublikasikan Habis Gelap Terbitlah Terang, yang dicetak sampai sebelas kali. W.R. Soepratman berdasarkan buku itu terinspirasi untuk menciptakan lagu Ibu Kita Kartini, sebagai penghormatan atas semangat dan keinginan Kartini agar perempuan Jawa, bahkan perempuan Indonesia tidak terkekang secara sosial tapi mereka bisa maju, menuntut ilmu, bahkan sejajar dengan kaum lelaki baik di bidang ekonomi, hukum bahkan politik. 

SEMANGAT KARTINI DI ERA REFORMASI Semangat Kartini terus hidup sampai sekarang. Ia meninggalkan semangat kesetaraan perempuan di hadapan laki-laki. Saat ini masyarakat tidak lagi memandang perempuan terkekang di dalam rumah. Saat ini sebagaimana kaum laki-laki, perempuan Indonesia mempunyai kesempatan yang sama di bidang sosial, ekonomi, hukum dan politik. Perempuan Indonesia boleh menuntut ilmu setinggi yang ia bisa raih, perempuan boleh mencari pasangannya tanpa dipaksa oleh orangtuanya, perempuan boleh menjadi polisi, jaksa, dan hakim. Perempuan bisa menjadi guru, manajer, direktur. Perempuan boleh menduduki jabatan kepemimpinan di dari jabatan lurah, camat, bupati, gubernur, menteri, wakil presiden, bahkan presiden. Dalam hal pekerjaan, perempuan boleh sama seperti kaum lelaki.

Oleh: Mas Wahyu
Sumber: 



.


Berawan Com banyak hal yang bisa menjatuhkanmu tapi satu satunya hal yang benar benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri




0 komentar:

Post a Comment