Friday, May 30, 2014




Hujan masih mengucur deras. Baru beberapa menit aku duduk di kursi ini. Memandangi tetes-tetes hujan yang tak berhenti. Sekolah berakhir setengah jam yang lalu. Aku enggan beranjak dari ruang kelas ini karena hawa dingin menelusup tubuhku. Tak ada seorang pun disini. Hanya aku.

Ku langkahkan kakiku menuju koridor kelas. Aku ingin melihat tetesan hujan lebih jelas. Tak ada siapapun disini, pikirku. Ku tengadahkan tangan ini untuk merasakan dingin serta lembutnya air hujan. Mulutku pun meracau melafalkan butiran-butiran doa yang ku ucapkan ketika tidurku. Tuhan, kembalikan cinta itu di dalam hati ibuku. Tak bisakah Ibu bersama Ayah lagi? Tak bisakah mereka bersama kembali? Aku hanya ingin melihat sinar cinta itu lagi.
Aku berhenti mengucap doa suci itu. Samar-samar terdengar olehku suara sepatu berdecit, melangkah ke arahku. Aku terdiam. Jika dia orang jahat, aku tak bisa lari kecuali menembus hujan yang deras ini. Aku takut, bayangan kelam itu kembali menyapaku. Tidak, itu tidak akan terjadi lagi.
“Hai, kamu masih disini. Kenapa belum pulang?” Suara itu mengagetkanku. Begitu merdu sehingga aku terpana, terbuai sesaat.

“Aku masih ingin disini. Aku masih ingin menikmati tetes-tetes hujan. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan disini?” Aku berbalik menghadapnya. Sesosok tubuh yang ku kenal berada di hadapanku. Dialah Aldi, Prince of My School. Tak ku sangka ia berada di depanku, tepat di depan mataku.

“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih disini. Tiba-tiba saja seperti ada yang menuntunku kemari. Boleh aku menemani kamu? Aku akan menemanimu menikmati betapa indahnya hujan kali ini.” Dengan sopan Aldi menawarkan hal yang indah padaku. Tentu saja, aku tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Daripada aku sendiri disini. Aku benci kesendirian. Entah kenapa, hal itu sudah ku camkan di dalam hatiku. Aku ingin ditemani seseorang. Seorang kakak ataupun sahabat.

Aku menatap Aldi. Aku melihat ada sinar ketulusan di dalam matanya. Sinar kasih sayang yang selama ini kurindukan. Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku. Aku mengiyakan tawarannya.

“Aku suka hujan. Bagiku, hujan bisa menghapus kepedihan di dalam hatiku.” Aldi mulai bercerita. Ku biarkan ia berbicara semaunya. “Aku pernah menghabiskan waktu dengan orang yang aku sayangi ketika hujan turun. Itu sebabnya aku suka hujan. Aku bisa mengingat dia tanpa seorang pun yang tahu.” Aku mendengarkan cerita Aldi dengan serius. Orang yang begitu hangat seperti dia ternyata telah memiliki orang yang sangat ia sayangi. Hal itu tak pernah kuduga.
“Tapi, hujan pula yang menjadi saat-saat terakhirku bersama dia. Aku tak pernah mengira setelah hujan itu reda, ia di ambil Tuhan. Tepat di depan rumahku, ia tertabrak bis yang melaju kencang. Saat itu pula ia meninggalkan dunia ini.” Sebuah kisah sedih kembali menghantui diriku. Sungguh tragis, Aldi memiliki sebuah kisah masa lalu yang menyedihkan. Aku betul-betul terkejut. Ku lihat ada bulir bening yang mengalir di pipinya. Aldi menangis.
“Maaf jika karena kamu ingin menemaniku, kamu jadi teringat dengan kisah itu. Aku benar-benar menyesal.” Aku mencoba menghentikan kesedihannya. Aku tidak mau ia berlarut-larut dalam kesedihan itu. Biarlah semua menjadi kenangan.

“Aku tidak apa-apa, kok. Kamu mau nggak main hujan-hujanan di lapangan? Aku ingin merasakan tetesan hujan ini.” Tanpa persetujuan dariku, ia menarik tanganku. Aku hanya bisa berlari mengikutinya. Aku mulai merasakan tetesan hujan. Persis seperti airmata ibuku. Begitu tajam dan dingin. Tangis seorang wanita yang kehilangan cinta.

Tiba-tiba jantungku berdesir kencang ketika Aldi menatapku. Aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya tertunduk sementara irama jantungku makin tak teratur. Aku tak mengerti dengan apa yang kurasa. Aku merasa bahagia. Aku bisa melupakan semua dendam dan amarahku. Aku semakin tak mengerti. Ketika Aldi menggenggam tanganku, ku beranikan diriku untuk menatap wajahnya. Senyumnya merasuk dalam jiwaku.

Tak lama, ia menyentakkan tanganku. Seperti tersadar akan sesuatu, ia lalu beranjak pergi. Aku mencoba menghentikan langkahnya, tapi ia tak berhenti. Aku memanggil namanya, tapi ia tak kembali. Ia berlari pergi meninggalkan aku sendiri disini. Setelah aku merasakan kehangatan darinya. Ia pergi tanpa sepatah kata pun.

Ku lihat sosok seorang wanita di sofa rumahku. Ibu, dia ibuku. Airmata mengalir deras dari mata beningnya. Ku beranikan diri untuk menyapanya, sekedar mengetahui penyebab luka hatinya.
“Ibu, kenapa Ibu menangis? Apa yang terjadi?” Beribu pertanyaan menggelayuti hatiku. Ibu, siapa yang telah membuatmu menjadi seperti ini?
“Dilla, Ibu tidak mau kamu mendengar semua ini. Tetapi, Ibu juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini. Ibu hanya ingin kamu mengerti. Ada hal di dunia ini yang tidak sejalan dengan keinginan kita.” Ibu menarik nafasnya perlahan. Aku menjadi kian penasaran. Apa sebenarnya yang ingin Ibu katakan padaku?

“Dilla, kaulah permata hati Ibu. Tanpamu, Ibu mungkin sudah tidak ada disini lagi. Ketahuilah, Ayahmu dan Ibu akan bercerai. Ayah ingin menikahi wanita itu. Kamu masih ingat kan, sayang? Wanita yang Ayah bawa ke rumah kita seminggu yang lalu.” Aku masih ingat, seorang wanita yang sangat cantik. Ayah membawanya ketika Ibu sedang pergi untuk memperkenalkannya padaku. Apa yang ada di pikiran Ayah? Kenapa Ayah lebih memilih wanita itu daripada Ibu?

“Sayang, Ibu tidak bisa hidup dimadu seperti ini. Karena itu Ibu meminta cerai dengan Ayah. Kamu mungkin tidak akan mengerti dengan hal seperti ini. Tapi, suatu saat nanti kamu pasti mengerti. Maafkan Ibu yang tak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu. Ibu tahu semua ini berat bagimu. Ibu hanya ingin kamu mengerti dan bisa memahami keputusan Ibu.” Airmata ibuku semakin deras. Tak ku sangka ayah melakukan semua ini. Tak bisakah Ayah bertahan? Kenapa Ayah tega menyakiti hati Ibu? Wanita yang telah hidup bersamanya selama 18 tahun ini. Apa kesalahan Ibu? Mengapa Ayah egois? Pertanyaan-pertanyaan itu keluar begitu saja dari pikiranku. Ayah, sosok yang sangat aku banggakan ternyata telah berubah menjadi orang yang begitu kejam.


Di sekolah, aku mencari Aldi. Ku cari dia di perpustakaan, di laboratorium sampai lapangan. Tapi, tetap saja aku tidak menemukan sosoknya. Barulah ketika pelajaran dimulai, aku mengetahui kalau dia tidak hadir ke sekolah hari ini.

“Kamu yang bernama Dilla, kan? Oh, ya kenalkan aku Ferry, temannya Aldi.” Seorang anak laki-laki seumuran ku berdiri di depanku. Aku pernah melihat dia, tapi aku tidak tahu kalau dia temannya Aldi.
“Iya, aku Dilla. Ada apa. ya? Dan kenapa Aldi tidak hadir hari ini? Apakah dia sakit?” Aku mencoba mencari keterangan padanya. Siapa tahu Ferry bisa menerangkan sesuatu padaku.

“Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Aldi. Ayo, kita cari tempat yang lebih tenang.” Ferry mengajakku menuju bangku di bawah pohon akasia. Ada hal yang sangat penting, batinku.

“Aku kenal Aldi sejak masih kecil. Ketika kami masuk sekolah dasar. Ia orang yang sangat baik. Aku tahu banyak tentang dia karena dia sering cerita kepadaku banyak hal. Termasuk tentang kamu, Dilla.” Aku terkejut. Apa yang Aldi ceritakan tentang aku? Sejak kapan ia memperhatikanku? Padahal, ketika hujan itu pertama kalinya aku bertegur sapa dengannya.
“Aldi pernah cerita padaku. Dia bilang, kamu sangat mirip dengan orang yang pernah ia cintai. Itu sebabnya dia selalu memperhatikan kamu. Sebenarnya dia sangat ingin untuk mengenal kamu lebih jauh. Tapi, dia tidak berani. Dia takut kehilangan kamu jika dia makin dekat kepadamu.” Aku terdiam, tak merespon lagi.

“Aldi juga bilang, katanya dia sayang sama kamu. Dia sedih setiap kali melihat kamu murung. Sebenarnya dia ingin menghibur kamu, tapi dia terlalu takut untuk itu. Dan semua ini juga baru aku katakan setelah dia pergi. Apa kamu tahu? Tadi pagi, dia dan keluarganya telah pergi ke luar negeri. Aldi pindah kesana. Jadi, kamu udah mengerti kan kenapa hari ini dia tidak hadir?” Apa yang terjadi? Aldi pergi. Secepat inikah, setelah hari itu, setelah hujan itu. Kapan aku bisa bertemu dia lagi?
“Maksud kamu, Aldi sudah pergi dan dia takkan kembali lagi. Secepat itukah. Apa itu yang ia inginkan?” Airmataku mulai menetes. Aku tidak menyangka jika ia pergi secepat itu.

“Dilla, semua itu bukan keinginannya. Dia bilang, dia minta maaf sama kamu karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang, dia tidak tahu kapan dia akan kembali ke Indonesia. Dia berharap kamu tidak sedih lagi. Dia ingin melihat senyummu seperti hari itu. Oleh karena itu, dia ingin agar kamu tidak menunggunya, karena hal itu terlalu berat untukmu. Percayalah, jika memang Tuhan telah menakdirkan kalian untuk bersama, dia akan kembali dan kamu pasti bisa bersamanya lagi.” Kata-kata Ferry menghujam jantungku. Tak pernah ku kira, Aldi pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Padahal saat ini aku sangat membutuhkan dia. Aku mulai tidak mengerti dengan dunia ini. Kenapa harus ada kehilangan? Kenapa kita harus merasakan rasa sakit karena kehilangan orang yang kita cintai? Aku mengerti sekarang. Seperti inilah rasa sakit yang Ibu rasakan ketika Ayah pergi. Sakit sehingga tak bisa di ungkapkan. Ibu, kenapa aku juga mengalami hal itu? Kenapa dia pergi?

Kebahagiaan yang aku harapkan sirna. Debar-debar cinta itu menghilang. Aku benar-benar kehilangan arah. Jika dia menyayangiku, kenapa dia pergi? Inikah caranya membuktikan kasihnya padaku? Aldi, aku berharap hujan itu merupakan awal kebersamaan kita. Aku berharap akan merasakan hujan yang selanjutnya juga bersamamu. Tapi, sekarang akan ku simpan jauh-jauh harapan itu. Ku tinggalkan ia di dasar hatiku. Aldi, aku tidak mengerti dengan dirimu karena aku terlalu mengharapkan hadirmu disisiku.

Hujan turun ketika aku sampai di depan rumahku. Ku biarkan ia membasahi tubuhku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menanti dirinya. Entah sampai kapan, Aldi akan kembali. Namun ia tetap ku simpan di dalam hatiku.
Hujan kali ini begitu deras. Tak ku sadari, sudah setahun ia pergi. Tetapi, apa yang membuatnya masih bernafas di diriku?
Aku kembali mengingat kenanganku ketika bersama Aldi. Saat hujan turun, ketika ia bercerita tentang orang itu. Ingin rasanya aku menangis dalam diam. Getar-getar cinta itu masih berdenyut di hatiku. Entah apa yang terjadi padaku? Aku melihat dengan jelas bayangan dirinya di depanku, seperti setahun lalu.

Tapi, semua itu hanya khayalku. Sampai hujan kali ini pun, dia tak kembali. Aldi, aku tetap menanti dirimu. Biarlah hujan menjadi satu-satunya kenangan di antara kita. Biarkan aku selalu menyimpan namamu di dalam hatiku. Aku akan menghitung sampai hujan ke berapa kali kah yang turun sampai kamu benar-benar datang. Aldi, haruskah aku menanti sampai hujan yang ke seratus, ke seribu ataupun sejuta? Hingga kamu kembali padaku. Aldi, tak peduli kapan pun itu. Aku akan tetap menunggumu dan menjaga kenangan indah antara kau dan aku ketika hujan turun.
---

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi

air mata adalah satu satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan ada yang telah membuat perasaanmu terluka

berawan com air mata adalah satu satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan ada yang telah membuat perasaanmu terluka

0 komentar:

Post a Comment