Friday, May 23, 2014


Sayang, aku lelah merindukanmu.

Kali ini aku menulis dengan suasana hati yang tak kumengerti. Sulit sekali untuk mengungkapkan segalanya, sulit sekali menyatukan rasa dengan kata. Aku menulis ini dengan sangat bersusah payah, tidak seperti dulu lagi. Karena saat aku menulis ini ketika sudah tak banyak lagi imajinasi, inspirasi, dan frasa kata yang kupunya. Jujur saja, kali ini aku menulis dengan keadaan otakku yang sudah rusak parah, aku bahkan tak tahu, kemana arah dan tujuan tulisanku ini. Bintangku hilang. Itu yang kutahu.

Ketika menulis ini, aku bertanya pada diri sendiri dan berpikir apakah aku telah benar-benar melepasnya, merelakannya. Aku tak tahu pasti. Sudah kubilang aku tak mengerti dengan suasan hatiku sendiri saat ini. Benar-benar tak mengerti. Yang kutahu, aku harus menumpahkan segalanya lewat tuisan, meski jika pada akhirnya aku sendiri bingung dengan susunan kataku yang tak beraturan.

Aku menulis ini dengan menahan tangis, tangisan yang memilukan. Tangisan yang bertanya apa arti rasa sakit ini, apa arti rindu ini. Sungguh ini pilu, memilukan. Rasanya aku ingin berteriak sekuat mungkin, ingin menangis sekeras mungkin. Pilu, itu yang kutahu saat aku menulis paragraf ini. Pilu menyergapku, tiba-tiba dingin dan, dan aku, aku merindukannya lagi. Tapi, kali ini airmataku enggan keluar dari pelupuk mata, atau aku memang sudah tak mampu lagi menangis. Aku ingin marah, aku murka ketika aku tak mampu menangis, dan mengungkapkan segalanya. Ini pilu, sungguh.

Aku lelah. sungguh aku benar-benar lelah sayang. Aku letih dengan segalanya. Menahan rindu, lalu berpura-pura semua baik-baik saja, berpura-pura bahagia, memaksa diri untuk tidak mengingatmu lagi, menahan diri untuk tidak mengabarimu, dan bersikeras melupakanmu. Justru nyatanya aku tersiksa. Aku lelah. Sungguh, aku benar-benar ingin pergi. Tapi kenapa, segala kamu selalu menjeratku. Kenapa rasanya begitu mudah bagimu menarik dan memaksaku masuk dalam jeratmu lagi, sedang aku sudah bersusah payah mendobrak pintu dan berlari keluar menjauh darimu.
Lantas jelaskan padaku mengapa sesakit ini ketika aku tahu kamu memang benar-benar tak perduli padaku. Bahkan ketika kabarmu tak menyapa layar di handphone ku. Mengapa sesakit ini mengabaikanmu, mengapa sesakit ini rasanya di abaikan. Mengapa sepilu ini.

Sayang, aku harus apa jika dalam upaya membencimu aku tak berhasil dan selalu gagal, aku harus apa? Aku harus apa ketika aku kewalahan menahan rindu? Aku harus apa jika pilu menyergapku? Katakan padaku sayang, aku harus apa untuk membencimu. Nyatanya aku tak pernah berhasil. Bahkan aku semakin mengingatmu. Benciku justru menjadi benar-benar cinta. Aku benar-benar kehabisan cara. Aku capek. Aku lelah melawan rasaku sendiri. 2 tahun sayang. Lelah.  Akan sampai kapan begini. Aku juga benci ketika mengetahui bahwa aku menangisimu, aku benci saat aku menjadi rapuh dan lemah sedang pengabaianmu tak pernah berhenti. Aku benci pagiku dengan katup mata yang membesar seperti mata panda. Sungguh, aku benar-benar lelah. Sumpah demi apapun aku ingin menyerah. Aku lelah. Tapi mengapa semua tak dapat semudah saat aku mengerjapkan mata, atau semudah meminum air saat aku haus. ­

Butuh seberapa sakit lagi? Aku sudah lelah.

aku telah berusaha aku juga sudah berdoa kini saatnya untuk pasrah

berawan com aku telah berusaha aku juga sudah berdoa kini saatnya untuk pasrah

0 komentar:

Post a Comment