Wednesday, November 26, 2014


Tentang Sepotong Kebahagiaan Sejati

Matanya menatap sendu ke arah lelaki yang terbaring di atas karpet itu. Perjalanan udara dan darat yang hampir memakan waktu sekitar lebih dari duapuluh empat jam, menggariskan raut wajah lelah di dahinya. Ini yang dinamakan pulang tinggal nama. Lelaki itu terbujur kaku,bahkan disaat terakhirnya menghembuskan nafas, tak sempatlah ia hanya sekedar berucap selamat tinggal pada wanita yang sangat dicintainya itu.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, dipisahkan Tuhan pada saat usia pernikahan belum menginjak masa perak. Dua puluh tiga tahun dirasa tak cukup lama untuk mengarungi samudera kehidupan berdua. Betapa takdir tak dapat sedikitpun kita prediksi.

Dan ini bukanlah kawin kontrak! Hanya saja ada satu perjanjian yang sama-sama disepakati. Tentu semuanya terjadi atas nama cinta. Kalau tak cinta, buat apalah sampai repot menyepakati sesuatu yang orang lain pun tak kan pernah bisa membayangkan sebelumnya. Perjanjian yang telah disepakati, dibuat atas nama cinta. Tak peduli cobaan seberat apa, hanya ada satu hal yang bisa menguatkan. Satu doa. Satu keyakinan. Satu harapan. Tiada lain untuk kembali bertemu di surga-Nya. Dua lembar kertas yang terdiri dari pemberitahuan vonis dokter serta putusan mutasi yang dilayangkan tepat sehari setelah kedua insan ini memutuskan untuk mengikat hubungan mereka dalam janji yang suci, dengan sangat sukses menghancur-leburkan mimpi-mimpi esok hari mereka dalam sekejap.

Maka dibuatlah perjanjian itu. Untuk saling menerima kekurangan masing-masing tanpa pernah akan mengeluh. Antara tak bisa memberikan keturunan dan juga waktu, yang banyak orang menganggap itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tak apa tidak mempunyai keturunan dan harus menerima kenyataan dunia untuk tidak selalu bisa bertemu muka untuk sekedar bercengkrama dan melepas kerinduan. Semoga di surga kelak amal mereka cukup untuk meminta Tuhan mengabulkan doa terbaik. Mereka berdua telah membuktikan, betapa kekurangan masing-masing tak mampu membuat mereka ragu atas cinta mereka. Betapa cobaan terbesar sekalipun tak mampu menghentikan takdir yang telah lama dituliskan oleh Sang Pencipta Seluruh Alam. Betapa hebatnya mereka berdua.

Namun, tiada yang tahu sisa hidup manusia di bumi. Bahkan raga kita pun tak pernah tahu. Satu pertanyaan yang wanita itu ajukan pada Tuhan. “Mengapa secepat ini Engkau pisahkan kami berdua?”

Rasa tak percaya yang sangat tiba-tiba, mendasari munculnya pertanyaan itu. Namun tak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk menyadari apa yang seharusnya dia lakukan. Boleh lah kita bersedih hati, namun jangan lah berlarut-larut. Boleh lah kita dirundung pilu, namun jangan lah sampai berminggu-minggu. Untuk perempuan yang besar hatinya, bukanlah perkara sulit baginya membelokkan arah pikirannya. Mencari-cari cara untuk tetap selalu bersyukur, mencari-cari hikmah dibalik setiap peristiwa. Mencari-cari pembenaran dari sebuah kata “ikhlas”.

Karena bagi mereka, waktu di dunia tidaklah berharga

Kebahagiaan di dunia adalah semu

Karena mereka berdua meyakini,

Bahwa kebahagiaan sejati akan mereka dapatkan di surga-Nya.




Berawan com bahagia itu sederhana dan mensyukuri apa yang ada

0 komentar:

Post a Comment