Wednesday, November 26, 2014

Jika Kau Pernah (Ingin) Bertanya

Kalau aku maju, aku lelah.
Kalau aku mundur, aku kalah.
Aku ingin bertahan, tapi salah.
Aku pun ingin melepaskan, tapi tak rela.

Aku membiasakan diri untuk selalu menghubungimu. Sekadar memberi kabar, juga bertanya apa saja untuk mengulur waktu kita berdua lebih lama.

Aku ingin kau terbiasa dengan hadirku di sekelilingmu.
Diam-diam meletakkan sosokku di sebuah ruang dalam
ingatanmu.

Aku selalu tertawa mendengar semua leluconmu, bahkan jika di suatu hari aku menemukan satu dua lelucon yang tidak lucu, aku akan tetap tertawa.
Percayalah, bagiku itu lucu.

Aku selalu memberikan pundak setiap kali kau merasa lelah. Setiap kali kau merasa ingin berhenti. Bersandarlah di pundakku. Selamanya pun tak apa.

Aku takkan pernah meninggalkanmu sendirian. Bahkan di saat kau membuat jarak yang teramat lebar, aku akan tetap mengawasi, meski dari jauh, meski diam-diam, sekadar memastikan kau selalu baik-baik saja.

Aku selalu mencarimu tiap kali kau mulai hilang dari radarku, juga di setiap kali firasatku berkata yang tidak-tidak.

Aku selalu khawatir tiap kali melihatmu diam dan semacamnya.

Aku selalu mengingat semua yang pernah kaukatakan. Tersimpan dengan sangat rapi di kepalaku; semua mimpimu, semua ceritamu, semua keinginanmu, semuanya.

Aku selalu jatuh setiap kali melihatmu, setiap kali mendengar suaramu, bahkan hanya dengan mengingatmu saja sudah cukup.

Aku jatuh cinta, berkali-kali kepadamu di setiap harinya.

Tapi, jika suatu hari nanti aku menghilang, aku bukan menjauh. Aku bukannya telah melupakanmu. Sama sekali bukan.

Aku…
Sebelumnya maaf jika terdengar kekanak-kanakan, maaf jika terdengar egois,

Aku…
Aku hanya ingin kaurindukan.
Aku hanya ingin kaucari.


Berawan Com everything will be okay in the end and if if it is not okay it is not the end




0 komentar:

Post a Comment