Thursday, November 20, 2014



Sabar Itu Berbunga Manis

Kita kembali lagi pada sabar. Entah datang dari mana, tidak ada yang memulai, dan tidak ada yang memancingnya. Kata itu datang seperti angin yang lupa memberi salam. Satu kata yang menguatkan. Satu kata yang membangkitkan. Kawan, mungkin langkahmu sudah jauh meninggalkan kami, sedangkan kami masih mencoba keluar dari kesulitan-kesulitan yang kami buat sendiri. 

Ya, kegemilangan memang tidak datang secara tiba-tiba, itu karena mereka sudah lebih dulu memulai. Sedangkan kita baru mau memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi tantangan. Tapi tidak ada yang tahu, mungkin dalam kegemilangannya tersisip selembar dua lembar “kertas ujian”, yang kisi-kisi soalnya tidak jauh-jauh dari kompetensi dasar: kesombongan dan pujian. Atau siapa yang tahu bahwa dalam kesulitan-kesulitan yang kita hadapi sekarang terselip “wildcard” yang akan membawa kita menuju tingkat permainan hidup berikutnya. Kalau kata guru-guru sih naik kelas! 

Well, coba kita lihat bunga, kalau di luar negeri sana, tiap musimnya dihiasi bunga yang berbeda-beda. Misalnya di Belanda, Tulip tumbuh pada musim semi, sekitar bulan April hingga Mei. Atau di Jepang, bunga sakura hanya tumbuh satu tahun sekali pada akhir Maret hingga awal April (betul gak ya, belum pernah ke sana sih). Itu tandanya apa? Setiap bunga memiliki musimnya sendiri untuk mekar. Coba, jika bunga tulip tumbuh pada saat musim dingin, apa yang akan terjadi? Apakah helai-helai mahkota berwarna-warni itu akan kuat melawan dinginnya salju? 

Begitu pun kita. Mungkin saat ini kita belum merasa seperti bunga yang mekar, masih kuncup, atau sudah mekar tapi belum sempurna. Maka bersabarlah, itu karena Allah sedang memeberikan polesan-polesan agar kita semakin cantik dan kuat ketika kita mekar nanti. Percayalah. 

Tapi, sabar itu susah! Iya, sama seperti mengerjakan soal-soal matematika. Perlu jam terbang. Perlu latihan. Bagaimana cara latihannya? Mudah sekali, jangan terlalu sering mengeluh. Kadang, saya juga suka keceplosan, “Ih, panassss banget mataharinya!” tapi sedetik kemudian saya diam lalu berkata, “Alhamdulillah panasnya…” Karena saya ingat betapa banyak manfaat dari matahari yang selama ini sudah saya nikmati. 

Bisa kita kontrol. Sabar pun bisa dikontrol. Draft skripsi ditolak terus, berarti dosenmu menginginkan karya yang paling baik dari yang sudah ada. Itu pertanda kamu sanggup. Atau saya khususnya, melihat sahabat saya yang sudah menikah bahkan sudah terkaruniai seorang bayi mungil, atau ketika melihat sahabat saya yang sedang asyik menikmati masa-masa pascasarjananya. Saya hanya bisa tersenyum kecil sambil berkata, “Bunga ini belum waktunya mekar…” (eh kok malah curhat?)

Nah, bahkan bunga mengajarkan kita banyak hal. Tapi tetaplah ingat, secantik apapun bunga yang mekar, ia akan layu pada akhirnya. Proses alami, segala yang hidup pasti akan mati. Ada dua pelajaran lagi dari ini. Pertama, ketika kita sedang berada puncak kegemilangan, lakukanlah yang terbaik, maka ketika sudah mulai melayu, kita bisa tersenyum syahdu. Kedua, siapkan benih baru dari jenismu. Rugi jika dalam hidup ini kita tidak memberikan pengaruh baik. Meski hanya mengajarkan disiplin dalam membuang sampah kepada adik-adik kecil kita? Ya. Meski hanya mengajarkan cara membaca lafal basmalah yang benar? Ya. Jadi, ketika kita sudah tidak lagi mekar, akan ada yang meneruskan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri kita, dengan itu wangi bunga kita akan tetap tercium harum. 

Masih banyak lagi sebetulnya pelajaran yang kita dapat dari bunga. Coba kamu perhatikan lagi deh! Sungguh, begitu mudah dan indahnya hidup ini jika hati selalu terpahami dengan segala sesuatu yang tersirat. 

Jangan sedih ya, semua ini bukan tentang tidak, tapi belum.


Berawan Com bahagia secukupnya sedih seperlunya mencintai sewajarnya membenci sekedarnya tapi bersyukurlah sebanyak banyaknya




0 komentar:

Post a Comment