Thursday, November 13, 2014


Aku dan Kamu

Andai hari ini adalah hari terakhir kau bersamanya, apa hal yang paling ingin kau ucapkan?"

Aku terhening sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Mungkin pertanyaan singkat yang hanya sekedar "Apa yang ingin kau ucapkan?" bisa membuat otakku berputar keras. Sungguh, aku pun bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan itu. Terlalu banyak cerita yang kulalui bersamamu selama 5 tahun ini.

Semua kenangan itu satu per satu kembali bergelayut dalam otakku. Kau, yang selalu memenuhi hari-hariku, bahkan jauh sebelum aku menyukaimu. Kau, yang selalu menggulung dalam otakku, walau kau tak pernah menjadi milikku.
Kau memang tak pernah menjadi milikku, dan aku pun tak pernah menjadi milikku, aku sadari itu. Tapi hal itu tak mampu menutupi, bahwa sebenarnya sempat tercipta cerita di antara kita.

Aku dan kamu, punya cerita. Hati ini menjadi saksinya. Andai kau sadari hal itu. Ah, sudahlah. Mungkin kau tak pernah menyadarinya, atau bahkan mungkin kau takkan pernah menyadarinya. Mungkin di matamu aku hanyalah sebatas teman biasa di hidupmu. Ya, aku sadari itu. Aku bahkan bingung menganggapmu sebagai apa di hidupku.

Mungkin, ya, kita hanyalah sebatas teman. Tapi ingatkah kau ketika dulu kau sempat menyukaiku? Haha, bodohnya aku, aku malah membencimu ketika itu. Ya, aku sempat membencimu, bahkan sangat membencimu. Dan ketika itu aku tak pernah menyadari, kau yang saat itu begitu aku benci, kini bisa begitu berarti bagi hidupku. Ah, entahlah. Aku bingung menjelaskannya.

Dan ingatkah kau, ketika aku sempat menyukaimu? Mungkin aku tak pernah terang-terangan menyatakan rasaku padamu. Tapi kuyakin kau bisa membaca hatiku, membaca mataku. Haha, aku selalu tersenyum geli ketika mengingat hari itu, ketika tingkahku begitu konyol di hadapanmu. Ya, aku sadari, aku begitu konyol ketika aku menyukaimu. Aku pun bingung kenapa dulu aku bisa bersikap seperti itu di matamu.

Mungkin inilah yang dimaksud oleh orang-orang yang mengatakan bahwa hidup ini seperti potongan mozaik hidup. Aku menyadarinya, dan lagi-lagi hal itu sangat konyol. Kau sempat menyukaiku, dan aku sempat menyukaimu, tapi anehnya kita tak pernah sama-sama suka! Kau menyukaiku ketika aku tak menyukaimu, dan aku menyukaimu ketika kau tak lagi menyukaiku. Kau boleh saja mengatakan ini karma atau apa, terserahlah. Tapi sadarkah kau, itu membuat cerita kita menjadi ada.

Belum lagi hal konyol yang terjadi ketika kau mulai risih dengan kedatanganku yang begitu tiba-tiba di hidupmu. Kau risih dengan hal-hal konyol yang aku lakukan padamu. Tapi sadarkah kau? Saat itu kau juga bersikap konyol!
Aku ingat ketika itu kau tiba-tiba menjauhiku tanpa sebab. Kau takkan pernah menyadari, betapa sakitnya aku saat itu. Dan kau takkan pernah tau, bahwa saat itu kau begitu berarti bagiku. Ah, begitu sulit menjelaskannya. Hanya hatiku yang mengerti betapa berartinya kau bagi hidupku saat itu. Kau menjauhiku tanpa sebab justru ketika aku begitu menyayangimu, ketika kau terasa begitu berarti bagi hidupku.

Sebenarnya sakit untuk mengingat hal itu lagi. Setahun kita tak saling bicara. Tanpa alasan yang jelas. Kau tak pernah mau mengatakan, kenapa kau menjauhiku. Mungkin, aku tau, kau risih dengan kehadiranku. Tapi aku hanya ingin mendengarnya langsung dari bibirmu.

Tapi saat itulah aku sadar, kau bukan segalanya. Bukan kau yang menjadi satu-satunya alasanku untuk hidup. Masa kelam itu kulalui dengan penuh tangis yang tertahan. Tapi tak pernah seharipun kulalui tanpa membiarkanmu melintas dalam pikiranku. Kau meninggalkanku justru di saat aku membutuhkanmu, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk membencimu. Tapi aku tak bisa. Aku memang tak lagi menyukaimu, tapi aku tak mampu membencimu. Entah kenapa, hanya hatiku yang mengerti. Aku tak bisa menjelaskannya. Bahkan di dalam sana, hatiku masih terus menjerit, terus meyakinkanku, bahwa kau sebenarnya tak sejahat itu.

Kita memang tak lagi saling menyapa, tapi kita tak bisa bersikap biasa saja, kita tak bisa bersikap seperti dua orang yang tak pernah saling kenal. Selalu saja ada di antara kita yang salah tingkah. Aku dan kamu, masih bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di antara kita, kau harus akui itu.

Aku menyadari hal itu, setahun kemudian. Ketika sorot matamu jatuh menatapku, ketika bibirmu tersenyum penuh hangat, ketika suaramu menjelma menjadi sebuah sapa, ketika itu jugalah aku percaya, keyakinanku selama ini tak sia-sia. Bahwa selama ini aku masih menggumpal dalam pikiranmu, walau tanpa alasan yang jelas. Ya, aku tau, kini kau memang tak lagi menyukaiku, tapi setidaknya aku tau, sebenarnya kau peduli padaku.

Hari-hari itu kembali. Kau mulai merasuki hidupku kembali. Candamu, tawamu, rusuhmu, anehmu, gilamu, autismu, aku suka. Aku memang tak lagi menyukaimu seperti sebelumnya, tapi aku sendiri pun tak mengerti bagaimana perasaanku saat itu padamu.

Aku tak mengerti apa hadirmu dalam hidupku. Kita punya cerita, tapi kita tak pernah saling memiliki. Sahabat, mungkin? Apa iya? Bukankah aku tak lagi pernah bercerita tentang hidupku padamu sejak kita bermusuhan? Hanya sekedar teman? Mungkin ya. Tapi apa kau yakin, aku hanya sekedar teman biasa yang masuk dan keluar begitu saja dari hidupmu? 

Aku sempat menyesal mengenalmu, aku sempat menyesal menyukaimu, aku sempat menyesal dekat denganmu. Tapi kemudian aku sadari, justru itulah yang membuat cerita kita menjadi ada. Aku bersyukur bisa mengenalmu.

Begitu banyak terlintas dalam otakku jika berbicara tentangmu. Kau aneh, tapi aku suka. Tapi, jika ini saat terakhir aku bisa berhadapan denganmu, aku hanya ingin mengatakan, "Gue sayang sama lo!"

0 komentar:

Post a Comment