Sunday, September 14, 2014



Sarapan Menjadikan Kita Berkualitas Secara Fisik dan Mental

‘You are what you eat’. Sebuah pernyataan yang secara tersirat menjelaskan aktivitas makan dan sesuatu yang dimakan merupakan pencerminan jati diri seseorang. Pencerminan jati diri tersebut dewasa ini mulai luput dari perhatian banyak kalangan. Salah satunya ialah melewatkan sarapan di pagi hari. Mengapa bisa demikian? Di era globalisasi ini, semua hal dituntut serba cepat. Sehingga sarapan dianggap memperlambat kinerja seseorang. Padahal sarapan menjadi salah satu kegiatan penunjang bagi manusia untuk menjalani aktivitas sepanjang hari. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya manfaat yang diberikan sarapan bagi tubuh dan otak kita. Namun karena tuntutan jaman, sarapan termarjinalkan oleh efektivitas darituntutan kerja dan aktivitas mendesak lainnya.
Sarapan bisa menjadi penentu karakteristik bangsa. Dimana sebagai manusia kita membutuhkan nutrisi yang cukup. Apabila nutrisi yang kita asup kurang, maka kita akan sering melihat orang-orang dengan berbagai gangguan, dan apabila diteruskan hal ini akan mengganggu mereka secara mental. Salah satu manfaat sarapan ialah memberi rasa kenyang, rasa kenyang tidak akan begitu mengganggu kita jika mengalami rasa kenyang yang cukup. Lain halnya jika kita merasa lapar. Mental kita akan terganggu dan kita akan mudah terbawa emosi jika dihadapkan pada suatu masalah. Selain itu kita akan lebih mudah mengambil resiko dalam kondisi perut yang lapar. Inilah yang sering kita temui bila pada pagi hari kita terjebak macet dijalan, banyak orang yang marah, menyerobot jalan, dan melanggar lalu lintas. Hanya karena hal yang mereka anggap sepele. Sarapan.

Fenomena degradasi pada sarapan

Banyak faktor yang membuat orang malas untuk sarapan. Salah satunya adalah kesibukkan. Manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus) selalu menjunjung tinggi produktivitas kerja, sehingga banyak hal dikorbankan demi tercapainya kualitas kerja yang diharapkan. Hal ini sering kita temui pada manusia modern. Setiap pagi mereka biasanya terburu-buru berangkat bekerja hingga melewatkan sarapan. Sangat mengkhawatirkan apabila uang menjadi penyebab tumpulnya karakter bangsa akibat tidak sarapan. Secara mental orang-orang yang menempeli tubuhnya sebagai makhluk ekonomi sudah terganggu. Dari uraian sebelumnya, orang yang melewatkan sarapan akan lebih mudah terganggu emosinya, dan cenderung untuk mengambil resiko.
Tidak sarapan bukanlah jalan keluar untuk meningkatkan produktivitas kerja, justru akan menjadi efek domino yang berujung pada terganggunya mental pada diri kita. Pekerjaan kita akan lebih berkualitas apabila kita mendapat asupan nutrisi yang cukup untuk diri kita. Bukannya mendegradasi sarapan dari kegiatan kita seharai-hari.
Degradasi sarapan ini juga menular pada pelajar. Selain karena keterbatasan waktu, ada ketakutan-ketakutan tersendiri bagi seorang pelajar untuk sarapan. Semisal mereka takut ingin buang air besar, atau mengantuk dikelas. Tidak mengejutkan apabila dimasa mendatang budaya sarapan sudah sangat sulit ditemukan atau bahkan punah, menilik dari banyaknya waktu yang tersita dari seseorang karena aktivitasnya yang mendesak.

Mengembangkan budaya sarapan melalui keluarga

Melihat kondisi ini sulit untuk membangun karakter bangsa yang sehat dan cerdas apabila sarapan hanya sekedar kata. Lain halnya bila sarapan adalah sebuah mahakarya, dan semua orang menghargainya, bahkan kalau bisa mengagungkannya. Tidak mudah untuk memenuhi ekspektasi sarapan sebagai mahakarya, namun ditengah kemajuan zaman hal tersebut wajib dilakukan demi pemenuhan sebagai negara berkualitas. Sarapan dan segala isinya harus kita anggap ‘spesial’. Mulailah dari hal yang mudah untuk dilakukan, menjadikan sarapan sebagai aktivitas yang spesial bisa kita mulai dari keluarga.
Menciptakan suasana yang harmonis ketika sarapan merupakan cara ampuh agar sarapan tidak terlewatkan dan menjadi aktivitas yang ‘spesial’. Hubungan yang baik antar anggota keluarga membuat mereka enggan melewatkan aktivitas sarapan, karena suasana yang harmonis menimbulkan efek yang adiktif. Sehingga bila tidak melakukan sarapan, maka seperti ada yang kurang dalam satu hari tersebut. Harmonisasi keluarga tersebut menjadikan sarapan sebagai tradisi wajib keluarga. Langkah selanjutnya adalah melakukan sarapan yang kreatif. Tak jarang setiap orang jenuh dengan menu sarapan yang itu-itu saja. Kejenuhan tersebut mengakibatkan keengganan seseorang untuk sarapan. Sehingga setiap keluarga dianjurkan untuk menghidangkan menu sarapan yang berbeda dari biasanya.
Tidak perlu takut untuk bereksplorasi dengan makanan. Dengan tidak mengesampingkan nilai gizi pada makanan, merubah tampilan makanan menjadi eksplorasi yang bagus. Mengingat kebanyakan orang jenuh karena melihat bentuk makanan yang seperti itu saja setiap hari. Eksplorasi selanjutnya adalah dengan merubah jenis makanan yang biasanya setiap hari menjadi menu sarapan. Apabila biasanya disuguhkan makanan berat semacam nasi dan lauk-pauk sebagai pelengkapnya. Cobalah sarapan dengan makanan yang lebih ringan seperti sereal, agar-agar, ataupun puding.


Invasi teknologi dalam sarapan

Teknologi bisa menjadi salah satu jalan keluar untuk meningkatkan intensitas sarapan seseorang. Kajian teknologi yang paling tepat dalam menjawab masalah sarapan ialah teknologi nano. Masalah sarapan dan berbagai implikasi yang dihasilkan bisa diselesaikan oleh teknologi ini, sebagaimana masalah bidang lain yang terselesaikan dengan teknologi ini.
Teknologi nano merupakan teknologi yang mampu mengontrol atau mengubah zat tertentu hingga memasuki skala nanometer. Ukuran 1 nanometer adalah 1 per satu milyar meter (0,000000001 m) yang berarti 50.000 kali lebih kecil dari ukuran diameter rambut manusia. Teknologi ini bukan suatu anomali yang harus dianggap sebelah mata dan asing, terlebih penerapannya terhadap makanan. Memanipulasi zat pada makanan hingga menjadi seukuran nano, tidak akan merubah fungsi dari zat itu. Justru hal tersebut sangat memudahkan bagi manusia modern. Dalam penerapan teknologi nano terhadap makanan, kita akan menemui makanan seukuran handphone, namun rasa kenyang dan nutrisinya sama dengan sepiring nasi yang  biasa kita makan. Hanya diperlukan waktu singkat saja untuk menghabiskan sarapan nanopangan ini.
Tidak perlu menganggap teknologi ini sebagai suatu insekuritas. Dengan pengelolaan yang tepat kita hanya perlu memakan makanan seukuran batang cokelat, namun kandungan gizinya setara dengan sepiring nasi yang biasa dikonsumsi. Dengan demikian kekhawatiran masalah kurangnya asupan nutrisi bisa diminimalisir dengan penerapn teknologi ini.

Berbanggalah jika kita bisa sarapan

Sering kita temui orang yang secara akademis kurang baik atau orang yang kurang produktif dalam pekerjaannya, hal itu bukan karena mereka tidak mampu melainkan karena mereka tidak sarapan. Sarapan semacam booster, karena sepanjang malam hari kita mengalami puasa. Kita memerlukan energi, nutrisi, dan zat lainnya sebagai booster untuk berkativitas sepanjang hari. Bayangkanlah jika tubuh sebagai kendaraan bermotor, bila terjadi kekosongan bahan bakar maka tubuh akan mogok.
Tanpa kita sadari keinginan untuk menjadi pribadi yang berkualitas sangatlah mudah. Anda hanya perlu meyempatkan waktu anda ketika pagi hari untuk sarapa yang kreatif dan menyenangkan bersama keluarga. Tidak mahal untuk menjadi orang sukse, anda hanya perlu satu kata kunci. Sarapan.




Sarapan Menjadikan Kita Berkualitas Secara Fisik dan Mental











0 komentar:

Post a Comment