Wednesday, April 30, 2014


Sometimes the heart sees what is invisible to the eye


Potongan kisah

Ahad, Januari 2014. Do’a – do’a sedang berada di pundak malaikat. Para pengiring sedang sibuk berdandan, cantik. Ada pula yang sedang menata diri menjadi barisan-barisan yang tak kalah tampan dari sang pengantin.

Ijab Kabul sudah dilaksanakan, kedua pengantin tersenyum penuh kesyukuran. Tak ada kesedihan kecuali orang tua yang akan ditinggal si gadis. Diantara orang-orang yang berbahagia, pun aku yang tak kalah gembira. Menyaksikan seorang kakak telah menjadi istri, dan ibu kelak.

Engkau memandangku heran, tak ada make up yang menghias wajah, tak ada gaun indah yang terpakai di tubuh mungil itu, atau penutup rambut yang ditata sedemikian rupa agar Nampak lebih modis dan sempurna. Aku hanya memakai gamis putih dan berjilbab biru jahitanku sendiri. Tak ada hiasan apapun kecuali beberapa bunga di bawah jilbabku.

Ternyata, penampilan yang sederhana dan apa adanya itu menarik perhatianmu, mengusik jiwa dan hatimu. Bukan, aku bukan ingin dianggap sholehah dan bersahaja. Namun aku tak pandai berwudhu ketika make up ku masih menempel di wajah, pun menata kembali jilbabku ketika harus sholat.

3 bulan setelah pertemuan satu arah itu, akhirnya kau beranikan diri menyampaikan maksudmu. Namamu memang kukenal, apalagi kau seorang dokter yang baik hati. Menjadi relawan di beberapa tempat yang membutuhkan. Lalu aktif di kampus yang sama denganku. Namun aku hanya tahu namamu saja. Tak lebih.

Kini, beberapa lembar kertas itu ada di hadapanku. Malu rasanya, tak pantas. Kau belum tahu siapa aku hah? Atau kau adalah orang yang terlalu memiliki tingkat husnudzon yang tinggi? Aku tak tahu. Aku hanya malu ketika harus menerima orang sepertimu, apalagi menolak? Kurasa malaikat akan mengerutkan dahinya. Haha

Hei Tuan, bila memang aku yang mengusik doa malammu selama ini. Bersabarlah sedikit lagi, bukan untuk menanti namun memberiku ruang untuk memantapkan hati. Pun bila bukan aku, masih banyak wanita sholehah yang lebih pantas untukmu.

Kini aku yang akan berdiskusi dengan Tuhan. Semoga diberi kebaikan.

Berawan Com Sometimes the heart sees what is invisible to the eye


0 komentar:

Post a Comment