Sunday, August 3, 2014


Udin dan Joko merayakan hari raya idul fitri di bawah pohon trembesi (sor baujan) dengan suasana hening. Tahun ini, keduanya tak dapat MUDIK atau balik kampung untuk berkumpul bersama keluarga.
Udin (U): Kenapa kau tak balik kampung? Ikut mudik seperti yang lain?
Joko (J): Tiap hari saya berharap dapat balik ke kampung, tapi Allah belum izinkan.
U: Hmmm..Jangan terlalu lebay (berlebihan), Bro!
J: Benar! Tiap hari saya ingin balik ke desa tercinta, tiap saat saya berdoa untuk itu.
U: Huh!!! Bilang saja tak punya uang!
J: Hahaha. Kau pun, kenapa tak balik kampung?
U: Jujur saja, kalau aku karena tak punya uang.
J: Ini baru jawaban jujur. Hehehe. Kasihan sekali. Selama ini memang kau tak cari uang?
U: Aku cari uanglah. Tapi, uangku habis menjelang lebaran.
J: Ohhh, kasihan sekali! Hehehe
U: Hehehe. Mari menertawakan diri sendiri. Mari kita mengakui kekalahan kita. Kita kalah bertarung hidup di Jakarta. Lihat, jutaan warga Jakarta dari semua kelas sosial berhasil pulang ke kampung halaman, sementara kita disini kesepian.
J: Hehehe.
U: Sebenarnya, mengapa mereka sampai rela berdesak-desakan naik bus, kereta api, pakai motor dari Jakarta ke Surabaya, Semarang, Jogja? Apa yang mereka cari?
J: Mereka ingin silaturahmi, bertemu keluarga, berbagi karunia Allah, saling memaafkan.
U: Huh. Kalau silaturahmi, mereka bisa pakai telpon, SMS, BBM, WatchApp, or facebook. Mengapa harus menyengsarakan diri sendiri? Terkena macet puluhan jam, panas terik perjalanan, menghambur-hamburkan uang saja.
J: Hahaha. Iri tanda tak mampu!
U: Bukan begitu. Sampai kapan tradisi semacam ini menyekik leher mereka?! Bagi masyarakat urban, tradisi semacam ini sudah nggak penting. Tak perlu mereka menantang maut, membahayakan diri sendiri, naik atap kereta api, naik motor dengan jarak jauh atau naik mobil truk untuk balik kampung.
J: Hmmm.
U: Memangnya, silaturahmi harus bertemu? Jarak jauh pun bisa saling komunikasi. Saling memaafkan pun bisa dilakukan kapan saja.
J: Tapi, rasanya tetap beda. Kau suka makan ketupat lebaran dengan opor ayam?
U: Suka dong.
J: Kau pernah merasakan bedanya bukan antara opor lebaran dan opor bukan di hari lebaran?
U: Hehehe. Suasananya yang berbeda.
J: Nah, itu kau mengakui. Tradisi ini sangat baik untuk dipertahankan. Makna Idul Fitri, bukan hanya sekadar makan opor ayam dan bertemu dengan orangtua dan keluarga. Bayangkan, selama setahun mereka berjuang untuk mencari nafkah di daerah yang jauh dari kampung halaman, jauh dari orangtua, adik-kakak, teman dan tetangga. Ada kerinduan dalam batin mereka untuk melongok masa lalu, menikmati romantisme masa kecil, berbagi rezeki dengan saudara, memikirkan nasib orang tercinta yang selama ini ditinggalkan.
U: Hmmm. Tapi kan bisa kapan saja, bulan dan hari yang lain bisa mereka lakukan?
J: Setelah sebulan berpuasa, mengekang hawa nafsu, syahwat, tidak makan dan minum, lalu menyucikan jalan sosialnya dengan zakat dan sedekah, tak ada salahnya mereka merayakan karunia Allah bersama keluarga. Idul Fitri bisa dimaknai sebagai hari untuk menyucikan jiwa dan raga, sebagai re-fresh bagi kaum Muslimin untuk menghadapi hari sesudahnya, membawa pesan Ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya.
U: Lalu, apa maksud fitrah pada Idul Fitri? Apa ada dasarnya dalam Al-Quran dan Hadis, apakah pernah dicontohkan Rasul bagaimana merayakan Idul Fitri?
J: Ini adalah konsep kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian, kembali kepada tujuan asal, kembali kepada negeri yang membuat mereka bermimpi tentang masa depan. Kita dituntut untuk selalu mengingat tujuan ibadah, tujuan penciptaan manusia, dan tujuan untuk tetap di jalan kesucian. Allah dan Rasulnya sampai mengharamkan makan di hari raya ini! Rasul menyuruh kita “berpesta.” Ini bukan “pesta” yang berarti hura-hura, tapi penyadaran jiwa kepada Sang Khalik. Dan, dengan kumandang takbir, tasbih dan tahmid di hari Raya diharapkan mampu menghilangkan virus-virus kesombongan, kerakusan, dan keserakahan dalam diri. Agar kita mau mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan sebagai hamba sehingga mampu melihat tujuan kita pulang ke Negeri Akhirat.
U: Tapi, apa perlu menghambur-hamburkan uang hanya untuk lebaran?
J: Selain hari raya pun, pasti menghamburkan uang tanpa tujuan itu salah. Namun, harus dilihat makna filosofi di balik itu dong. Bangunan silaturahmi tak cukup hanya dengan telpon dan SMS. Dalam pertemuan, orangtua bisa menasihati anaknya, di antara keluarga bisa saling menasihati, memotivasi, berlomba dalam kebaikan, saling memaafkan, saling membantu sesama. Ini merupakan tradisi luar biasa di Nusantara, yang tak bisa dihentikan.
U: Hmmmm
J: Secara sosial dan ekonomi, kita bisa menyaksikan bagaimana distribusi kesejahteraan dari kota ke kampung/desa dengan angka yang sangat tinggi. Trilyunan rupiah uang masuk ke daerah, desa dan kampung menjelang lebaran. Tak hanya dari kota-kota besar di Indonesia, tapi dari TKI di luar negeri pun jumlahnya sangat besar mengirimkan uang untuk keluarga di daerah. Ini cukup membantu menyelesaikan problem ekonomi daerah, meski bersifat jangka pendek.
U: Sudah cukup! Istrimu masak opor ayam nggak?
J: Hahaha. Saya undang kamu ke rumah saya. Mari makan opor bersama HMK-TBM.
U: Apa itu HMK-TBM?
J: Himpunan Muslim Kere Tak Bisa Mudik (HMK-TBM)
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin,

oleh:
Halim Ambiya
sumber cahayadzikir wordpress


habis lebaran isi dompet pun akan kembali ke fitri suci bersih dan tidak ada yang tersisa

berawan com habis lebaran isi dompet pun akan kembali ke fitri suci bersih dan tidak ada yang tersisa




0 komentar:

Post a Comment